Apakah Indonesia Sudah Perlu Mengimpor Beras?


oleh Yayuk Mulyati

Indonesia merupakan negara yang mayoritas penduduknya menjadikan beras sebagai salah stau makanan pokok mereka. Tetapi apa jadinya jika beras yang merupakan makanan pokok mereka itu tiba-tiba sulit untuk di cari dan harganya pun tidak lagi terjangkau oleh masyarakat? Haruskah masyarakat mencari alternatif makanan lain sebagai makanan pokok mereka? Atau haruskah Pemerintah mengambil jalan keluar dengan melakukan impor beras dari negara lain? Kebijakan impor beras sepertinya telah dijadikan solusi oleh pemerintah untuk mengatasi krisis pangan yang menimpa Indonesia. Tetapi apa jadinya jika impor beras benar-benar di lakukan? Tak ayal lagi pastilah harga beras menjadi lebih tinggi dari biasanya dan jelas itu menjadikan masalah baru bagi masyarakat terutama masyarakat yang kurang mampu. Selain itu, para petani lokal juga mengalami kerugian, dimana harga jual mereka lebih rendah dan beras-beras lokal mereka menjadi tersaingi dengan beras-beras impor.

Alasan Pemerintah untuk melakukan impor beras juga diperkuat dengan fenomena la nina yang saat ini sedang menimpa Indonesia. Ketidakstabilan iklim yang saat ini sedang di alami menjadikan alasan Pemerintah untuk melakukan impor beras, selain itu stok beras bulog yang mulai berkurang juga menjadi salah satu alasan. Saat ini stok beras yang ada di bulog tersisa 1,2 juta ton yang akan terus dikeluarkan sampai dengan akhir tahun, sebenarnya jika bulog mampu optimal dalam melakukan pengadaan atau penyerapan gabah/beras dari petani, maka seharusnya stok beras di gudang Bulog bisa mencapai 3,8 juta ton.[1]

Jika impor beras tetap dilakukan oleh Pemerintah maka tak bisa dihindari juga kenaikan harga beras di pasaran. Kenaikan harga beras inilah yang dapat berdampak langsung kepada masyarakat, terlebih para ibu-ibu rumah tangga yang akhirnya harus memutar otak kembali mencari jalan keluar demi mencukupi kebutuhan rumah tangga mereka. Para petani juga memutar otak mencari jalan keluar agar baras-beras yang mereka hasilkan dapat bersaing dengan beras-beras impor yang ada dipasaran.

Sebenarnya dengan jumlah lahan pertanian yang dimiliki Indonesia kita tidak seharusnya mengalami kekurangan pasokan beras. Yang sekarang menjadi pertanyaan dari permasalahan ini adalah bagaimana kinerja bulog sebenarnya dan bagaimana pendistribusian beras dari para petani sampai kepada para konsumen. Pendistribusian beras ini dinilai penting, karena jika di dalam proses pendistribusiannya ternyata ditemukan permasalahan seperti keterlambatan dan sebagainya hal itu juga mempengaruhi pasokan beras yang ada di bulog sehingga seolah-olah pasokan beras yang ada berkurang dan tidak cukup.

Harga beras yang saat ini berkisar antara Rp. 5.000 sampai dengan Rp. 7.000 per kilogram jelas sudah membuat para konsumennya kebingungan. Mereka seolah-olah tidak punya pilihan lain, padahal masih ada bahan makanan lain yang bisa menggantikan beras sebagai makanan pokok. Jika dilihat dari kandungan gizi yang ada di dalam beras hampir sama dengan yang terkandung di dalam jagung, singkong ataupun umbi-umbian lainnya. Penggantian makanan pokok dari beras ke jagung ataupun umbi-umbian dapat menjadi salah satu solusi yang diambil bagi masyarakat untuk mengatasi semakin mahalnya harga beras.

Tetapi, masyarakat justru belum banyak yang mengambil solusi tersebut, mereka malah lebih memilih untuk menggunakan bahan makanan siap jadi yang mereka pikir lebih murah dan efisien. Biasanya masyarakat akan memilih mie-mie instan sebagai makanan mereka pengganti nasi. Hal ini tentu saja akan menimbulkan dampak yang tidak baik bagi kesehatan dan hal ini tentu saja lagi-lagi akan menjadi suatu permasalahan bagi kaum perempuan khususnya ibu-ibu rumah tangga.

Para ibu rumah tangga yang bertugas menyediakan serta menyiapkan segala kebutuhan makanan di rumah mereka akan lebih berpikir keras untuk mencari cara mendapatkan bahan makanan yang murah sekaligus bergizi bagi keluarganya. Dari situasi inilah terbentuk gaya hidup yang serba instan, kita sendiri bahkan menjalani gaya hidup tersebut. Saya sendiri mengakui pilihan pertama disaat saya merasa lapar dimana tidak ada makanan, yang akan saya lakukan adalah langsung membeli mie instan di warung. Hal itu tentu saja tidak hanya saya yang melakukannya sebagian besar orang juga akan melakukan hal tersebut.

Lalu bagaimana dengan nasib para petani kecil? Mereka tentu saja akan lebih banyak mengalami kerugian. Harga-harga pupuk serta penunjang pertanian mereka yang tinggi ditambah dengan masuknya beras impor tentu saja menjadi beban lagi bagi para petani. Biaya yang sudah mereka keluarkan dalam proses penanaman padi tidak sebanding dengan penghasilan mereka dengan menjual hasil pertanian mereka. Keadaan ini bisa menjadi salah satu penyebab kenapa sekarang ini para petani lebih memilih ke perkotaan untuk bekerja sebagai pedagang ataupun buruh. Dengan perginya para petani ke perkotaan maka membuat para ibu rumah tangga yang tadinya mereka hanya mengurus masalah rumah tangga mereka akhirnya mau tidak mau mesti ikut membantu perekonomian keluarga dan akhirnya para ibu menjadi buruh-buruh tani yang dibayar dengan upah yang relatif kecil dan tidak tetap dimana mereka dibayar hanya pada saat setelah mereka bekerja yang tentu saja tidak setiap hari.

Dari penjelasan diatas terlihat bahwa kebijakan impor beras ternyata mempunyai dampak yang beragam dan tentu saja dirasakan juga bagi kaum perempuan. Pemerintah dan Bulog mesti mencari jalan keluar yang baik bagi seluruh rakyatnya dan tidak hanya menguntungkan satu pihak saja. Oleh sebab itu sebaiknya Pemerintah mencarikan jalan keluar lain untuk menanggulangi isu krisis pangan yang akan terjadi di Indonesia. Bukan dengan menyerah begitu saja melakukan impor beras tetapi dengan bekerja lebih keras lagi meningkatkan produksi pangan dari para petani lokal. Bila Pemerintah saja sudah duluan mengambil jalan keluar dengan mengimpor beras lalau siapa lagi yang akan mendukung para petani lokal untuk terus meningkatkan produksi pangan mereka?


[1] http://www.republika.co.id/berita/breaking-news/ekonomi/10/09/23/136218-dpr-impor-beras-belum-perlu

Advertisements

2 thoughts on “Apakah Indonesia Sudah Perlu Mengimpor Beras?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s