Belanja online dan keamanannya

Anyone, adakah yang suka berbelanja barang secara online? Kalau ada, mungkin kita sama ya.. Sejujurnya, saya bukan orang yang senang berbelanja, tapi sejak maraknya toko online dan e-commerce, kemudahan bertransaksi, barangnya cepat sampai belanja terasa menyenangkan. Bahkan, cenderung bikin ketagihan. 
Awal saya belanja online adalah membeli hp bekas di forum jual beli Kaskus. Karena pembelian berhasil, besoknya saja coba lagi untuk menjual hp lama lewat fjb dan dalam beberapa hari, hp sayapun terjual dengan harga nego yang sesuai alias nggak sadis. Tentu akan lain halnya kalau saya jual HP saya di konter dekat rumah. Alih-alih dapat duit lumayan, malah saya bakal kecewa.
“Lha, HP-ku beli mahal kok dijual cuma dapat duit segini?” 
Kegiatan belanja dan jual online pun berlanjut. Waktu itu saya baru mengenal fjb Kaskus untuk jual beli, khususnya HP bekas. Kenapa? Karena buat saya saat itu fjb cukup terpercaya. Selanjutnya, saya mulai sering jual barang lain selain HP, entah itu kerudung yang custom sendiri, reseller tas, baju, mukena bali, dan lain-lain. 
Tak cuma fjb Kaskus, waktu saya jualan pun saya mulai pakai platform lain seperti Instagram, Facebook, serta grup BBM. Saya pun iseng-iseng membeli juga dari toko-toko online yang berjualan di platform tersebut. Umumnya produk yang saya beli adalah fashion item. Wajarlah, namanya juga cewek.. kepincut dengan yang menarik pandangan mata terus langsung beli deh. 
Pembayaran pun makin mudah setelah saya menggunakan sms banking. Ya, sebelum internet banking, saya senang pakai sms banking.
Sekarang… 
Saya masih suka berbelanja fashion item(s). Tetapi saya punya preferensi, untuk produk-produk seperti baju, sepatu, dan tas saya pilih beli lewat Instagram. Kalau produk kelengkapan gadget saya pilih Bukalapak atau Tokopedia.
Sementara, untuk peralatan rumah tangga, saya beli di Lazada, soalnya enak sih bisa free ongkir. Seperti waktu saya beli kado nikahan untuk seorang teman, saya belikan dia kompor dan seperangkat panci di dua penjual berbeda. Untungnya, keduanya bisa free ongkir. 
Selain fashion items, perabot rumah tangga, atau kelengkapan gadget, sekarang juga banyak e-commerce yang membantu konsumen membelanjakan kebutuhan groceries seperti beras, buah, deterjen, sabun, sikat gigi, dan lain-lain. 
Misalnya saja lewat jasa Happy Fresh atau yang terbaru Mumu. Keduanya sudah punya mobile apps, kamu tinggal pasang di smartphone, log in, milih barang yang akan dibelanjakan, pilih metode bayar dan voila, dalam hari yang sama, belanjaan kamu langsung datang! Apa sih yang nggak bisa kalau udah pakai internet? 
Barang bekas



Nah, kemarin saya baru saja liputan layanan iklan baris OLX. (Nama OLX sudah sering saya dengar, tapi saya belum pernah buka layanannya). Saya pun membuka situs OLX yang memang spesifikasinya buat memperjual belikan barang-barang bekas. Kemudian saya jadi ingat kata Chief Marketing Officer OLX Indonesia Edward Killian. 
Pak Edward bilang, barang bekas itu masih bisa dijual untuk meningkatkan kualitas hidup. Bener juga sih.. dengan jual barang bekas, kita dapat uang, terus space rumah juga lebih luas kan kalau barang-barang bekas yang layak pakai dijual. Hehe.. 
Peduli keamanan  saat berbelanja online



Anyway, berbelanja di manapun tak masalah sebenarnya asalkan kamu selalu memperhatikan layanannya. Jangan lupa juga, untuk selalu mengkroscek sebelum beli. Syukur-syukur kalau pas kamu kirim uang diterima ke rekening e-commerce nya dulu, barang sampai ke kamu, baru deh uangnya ditransfer oleh penyedia jasa ke pembeli. 
Sangat penting untuk menjaga keamanan akun dan privasi kamu selama berbelanja online. Jangan sampai kamu jadi korban penipuan atau hacking
Co-CEO Lazada Indonesia Florian Holm pernah memberikan tips.
Dia bilang, jangan lupa untuk me-log out akun e-commerce, email, medsos kamu kalau habis memakainya di komputer publik. Misalnya di komputer kantor, warnet, laptop teman, atau di manapun. 
Yuk lanjut belanja online-nya, tapi jangan sampai uang di rekening habis buat belanja online ya guys

*Agustin*

Review Katamama Hotel Bali

Hai WordPress..

Lama tak berjumpa. Entah kenapa sekarang saya malas banget meng-update blog ini. Padahal, justru saya melakukan berbagai hal seru selama beberapa bulan terakhir ini. 

Kali ini, saya mau bercerita tentang sebuah hotel di Bali yang cukup berkesan di hati. Ceritanya, beberapa minggu lalu, saya mendadak disuruh DLK ke Bali memenuhi undangan dari Google Indonesia dalam kampanye #SelaluTahuYangSeru edisi Bali. 

#SelaluTahuYangSeru sendiri adalah kampanye Google agar para pengguna memakai Google App sebagai asisten virtual saat liburan atau mengunjungi tempat-tempat seru. Sebutlah salah satunya Bali. Karena saya satu-satunya media dari desk Tekno, praktis berita yang saya buat ya seputar aplikasi Google. Sisanya saya unggah di blog ini makanya saya menyempatkan untuk foto-foto yang saya anggap menarik walaupun kamera HP saya sungguh terbatas. 

Tampak depan Katamama Hotel, tempat saya menginap.

Hal pertama yang bikin saya amat tertarik adalah hotel tempat kami bermalam. Meski hanya dua malam, Katamama Hotel, sungguh memberi kesan tersendiri. Hotel ini terletak di Jalan Petitenget No 51, Kerobokan Kelod, Kuta Utara. Singkat kata, masih di seputaran Seminyak. Lokasinya satu komplek dengan beach club Potato Head Garage yang banyak ditulis oleh blogger lain (meski sebagian besar ulasan soal beach club ini tidak recommended bagi pribumi -tapi entahlah, saya belum coba-). 

Ini Potato Head Beach Club yang terletak berhadapan dengan Katamama Hotel.

Jadi begitu tiba di pintu dropp off, kami langsung disambut dengan tiga mobil golf yang mengantarkan ke pintu hotel. Memang jaraknya tidak terlalu jauh, tetapi karena kami lelah usai perjalanan dari Jakarta ya kami manut saja. Sesampainya di lobi hotel, selain disuguhi welcome drink rasa lemon, kami juga diberi sehelai handuk basah untuk mengelap wajah yang memang sudah kusut karena waktu sudah menunjukkan pukul setengah 12 malam. Sembari menunggu proses check in.. kami pun duduk-duduk di lobi mungil itu. 

Ini welcome drink yang saya maksud..
Kartu akses ke kamar Katamama Hotel yang didesain dengan lambang Google.

Tak lama kemudian, kami diantar ke kamar di lantai 4. Sebagai informasi, Katamama menyediakan beberapa tipe kamar, nah kamar yang saya tempati adalah pool view suits. 

Lanjut cerita ya… Begitu masuk, setelah lobi, kami melewati restoran yang dipakai untuk sarapan. Karena malam hari dan suasananya agak temaram, yang terlihat hanya meja kursi saja dengan sebuah bar. 

Nah, ini lorong dari lift menuju kamar hotel saya. Tampak tradisional dengan batu bata kan?

Saya dapat kamar 418 yang terletak di paling ujung. Katamama Hotel bentuknya menyerupai huruf L. Nah posisi kamar yang saya tempati itu ada di bagian ujung lengkungan. Paginya, saya tahu kalau view di kamar saya adalah salah satu yang terbaik dibandingkan kamar yang lainnya. Sebab saya bisa melihat keseluruhan pemandangan hotel yang temboknya mirip warna oranye bata itu dari ujung ke ujung lengkap dengan pool view-nya. 

Ini lho, pemandangan Katamama Hotel dari balkon kamar saya.
Ini pemandangan dari kamar 408.

Kembali ke kamar, begitu membuka pintu dengan kartu akses alangkah terkejutnya saya! Kamar hotel yang saya tempati rupanya sangat besar dengan luas sekitar 82 meter persegi, mungkin seukuran RUMAH kos minimalis saya di Palmerah. Jadi pas masuk saya langsung bisa melihat sebuah meja bar yang lengkap dengan segala suguhan complementary hingga botol-botol berisi bahan dan seperangkat alat membuat cocktail. Tak ketinggalan juga ruang es batu dan wastafel di meja yang bar tersebut. 

Beralih ke samping meja bar, terdapat sebuah walking closet untuk menaruh dan menggantung pakaian, lengkap dengan hanger dan sebuah kaca besar yang menampilkan pantulan refleksi saya dari ujung kepala hingga kaki. 

Ini lho, bed yang saya bilang ekstra besar itu. Jadi ekstra besar karena hanya ditempati satu orang.

Tak cukup di situ, kenorakan saya makin menjadi-jadi melihat bahwa di kamar saya seperti punya ruang tamu dengan dua sofa nyaman dihias dengan lampu yang cantik dan bantal-bantal yang empuk. Belum lagi di atas meja terdapat beberapa buku bacaan yang membuat dekorasi ruang tamu saya jadi makin nyaman. Ah… Indahnya! Tidak lupa, di bagian tembok tak dibiarkan kosong, melainkan ada tulisan terbuat dari besi, entah apa bacaannya karena ditulis dalam Bahasa Belanda atau Jerman. 

Puas ‘ngoprek’ di ruang tamu, saya beralih ke sebuah meja keja di depan sofa tadi. Di sana juga terdapat sebuah kursi untuk duduk serta beberapa stop kontak. Saya pun melepaskan kerudung dan menaruh tas saya di atas meja kerja itu sekaligus dibuat terbelalak dengan bed ukuran besar yang ada di balik meja. Ah, rupanya meja dan bed itu menyatu dan dibatasi sebuah meja yang lebih tinggi yang difungsikan sebagai kepala tempat tidur untuk menaruh dua lampu tidur, gelas, dan sebuah botol kaca berisi air minum. 

Berbagai peralatan dan bahan-bahan membuat cocktail.

Saya pun memperhatikan tempat tidur dengan sprei berwarna putih yang ditata rapi dan tampak sangat nyaman. Tak mau merusak, saya lalu melihat di depan tempat tidur itu ada sebuah televisi dan lampu yang cukup tinggi. Berhadapan dengan tempat tidur, saya bisa melihat tirai yang sangat lebar. 

“Ah, itu pasti kaca,” pikir saya. Maklum, karena sudah malam saya tak membuka tirai tersebut dan memilih untuk mengoprek di kamar mandi. 

Posisi tirai dari tempat tidur saya.

Alangkah terkejutnya saya ketika melangkahkan kaki di kamar mandi yang ukurannya lebih besar dari kamar kos saya itu. Lol! Peralatan mandinya pun sangat lengkap, mulai dari bathtub, shower di atas kepala, kloset, berbagai jenis handuk, alat-alat mandi, hingga meja rias super besar dengan dua buah kaca berukuran ekstra besar! Satu nilai plus sebuah kamar mandi hotel adalah tersedianya hair dryer

Perlu kamu tahu, di hotel ini segala sabun dibuat dengan bahan alami (menurut ingredience-nya) dan wanginya pun mirip dengan wangi spa, sangat tadisional. Kalau menurut teman saya, mbak Titin, malah wanginya seperti obat herbal. Tapi saya sangat menyukai wangi itu. Bikin betah dan relaxing. 

Melihat semua itu, asli saya jadi tidak bisa tidur. Bukan karena takut, tetapi lebih ke rasa ingin tahu (baca: masih ingin ‘ngoprek’ dan menjamah seisi kamar). Saking nyamannya, saya baru bisa benar-benar tidur jam setengah 2 waktu Bali. Maklum ya, namanya juga di tempat baru, jadi pasti diawali dengan drama insomnia. 

Begitu bangun pagi sekitar jam 6, saya langsung iseng membuka tirai. Rupanya saya punya balkon! Sayapun berusaha membuka pintu kaca ukuran besar itu. Di balkon tersebut, terdapat sebuah sofa untuk bermalas-malasan dan sebuah meja dan kursi untuk duduk-duduk santai. Saya pun melongok pemandangan hotel. Seperti yang saya bilang sebelumnya, saya bisa lihat bangunan hotel secara full. 

Balkon kamar saya. Nyaman banget kan??

Sebenarnya, dari balkon kamar itu saya juga bisa melihat bahwa Katamama Hotel terletak di pinggir pantai. Sayangnya pemandangan pantai itu tak begitu bisa dieksplor dari kamar saya. (Mungkin kamar lain ada yang view-nya pantai? Pasti ada).

Puas foto-foto pemandangan dari balkon, saya lalu mandi air panas dari shower.. Segarr… Intinya, kamu mau melakukan apa saja, semuanya sudah ada di kamar hotel. Kecuali sarapan. Karenanya, saya turun ke lantai 2 (tempat lobi dan restoran) untuk makan. Nama restorannya adalah Movida. Nah, pemandangan yang tak saya lihat saya selintas melewati Movida pun jadi kelihatan sekarang. 

Meja bar yang ada di restoran Movida, di baliknya ada dapur tempat masak-masak.

Meski restorannya tak terlalu luas, penataan dan dekorasi ruangannya dibuat sedemikian rupa namun tetap berkesan Indonesia banget. Semua kursi dan meja hingga meja bar pun dibuat dari bahan kayu. Membuatnya tetap tradisional namun tidak kuno. 

Restoran Movida

Meski begitu, kesan modern tetap ditunjukkan dalam menu breakfast yang disediakan, sebagian besar adalah menu makanan Eropa. Sang juru masak sendiri berasal dari Australia. Mungkin menunya sengaja dibuat makanan barat karena sebagian besar tamu yang bermalam di sana memang orang asing. 

Menu sarapan saya di Restoran Movida, Katamama Hotel

Entah pesan apa saya waktu itu, pokoknya saya minta dibuatkan yang ada telurnya dan saya order khusus telur mata sapi. Begitu makanan yang dipesan ke luar, rupanya adalah roti bakar dengan telur mata sapi dan kepiting ditambah dengan sayuran berupa asparagus. Sebagai pelengkap, saya juga minta jamur panggang. Pokoknya enaaaak~ 

Nah di hari kedua, Google Indonesia memberi kejutan unik saat breakfast, yakni sebuah rainbow cheesecake dengan warna warni khas Google. Lucunya..

Tak lupa, saya juga menyempatkan diri untuk menilik swimming pool yang fotonya sudah saya unggah di atas ya.. Nah. Kira-kira begitulah pengalaman saya selama dua malam di Katamama Hotel Bali. 

Ohya hampir lupa, meski begitu nyaman, entah kenapa saya sempat dengar suara-suara seperti langkah kaki saat sedang di kamar. Tapi saat itu saya mikir “mungkin ini tamu di atas lagi mondar mandir.” Karena tak mau berpikir macam-macam dan bikin parno. Rupanya, teman-teman di kamar lain juga gitu. Lol. But overall its nice to stay in this hotel.. 

Jadi, buat kamu yang penasaran ingin menginap, silakan cari tahu lebih lanjut yaa mengenai hotel ini. 

See you!

-A-


Wisata Pantai di Belitung Negeri Laskar Pelangi

Pernahkah anda menyaksikan film Indonesia berjudul Laskar Pelangi? Film tersebut menceritakan impian anak-anak miskin di Pulau Belitung (Belitong) yang ingin meraih pendidikan yang lebih baik. Selain jalan ceritanya, film yang diinspirasi dari novel karya Andrea Hirata itu, menyuguhkan lokasi syuting yang sangat indah.

image
Salah satu lokasi syuting Laskar Pelangi, Pantai Tanjung Tinggi

Sebelum novel tersebut diangkat ke layar lebar, tidak banyak orang Indonesia yang mengetahui keindahan Belitung.

Sampai akhirnya dari film tersebut, kita tahu bahwa Belitung memiliki laut yang sangat rupawan dan menyejukkan mata. Pasir putih dengan air berwarna biru muda ditambah dengan sederetan batu-batu yang sangat besar menjadikannya sebagai salah satu tujuan wisata nasional (hingga internasional). Terutama setelah film Laskar Pelangi diluncurkan.

Mulanya, keberadaan surga lautan yang terletak di selatan Sumatera itu memang belum banyak diketahui orang. Hal ini diakui oleh Bupati Belitung Sahani Saleh.

“Novel Laskar Pelangi merupakan salah satu penyulut yang membuat Belitung dikenal oleh jutaan orang. Bahkan, kini Belitung menjadi populer dan dilihat oleh jutaan wisatawan domestik dan asing,” kata Sahani beberapa bulan lalu saat saya dan rombongan dari Kementerian Perhubungan melakukan presstour ke Belitung.

image
Pintu masuk ke Pantai Tanjung Tinggi

Menurut Sahani, pariwisata merupakan sektor yang diunggulkan oleh Kabupaten Belitung. Di sana, ada beberapa pantai yan menjadi tujuan wisata, di antaranya adalah Tanjung Kelayang yang merupakan pintu gerbang menuju pulau-pulau kecil di sekitarnya. Sebut saja beberapa Pulau Lengkuas, Pulau Pasir, dan Pulau Kepayang.

Kedua adalah pantai Tanjung Tinggi yang sempat digunakan sebagai tempat syuting film Laskar Pelangi.

Pengunjung dari Jakarta yang hendak menuju ke Belitung bisa mengunjungi pulau yang memiliki dua kabupaten ini dengan jasa pesawat terbang. Jarak tempuhnya yang hanya 45 menit dari Jakarta dengan pesawat memungkinkan wisatawan Jakarta untuk berlibur saat akhir pekan.

Adapun bandar udara yang dituju adalah bandara H.A.S Hanandjoeddin di Tanjung Pandan. Menurut Sahani, seringkali ada wisatawan dari Jakarta salah jurusan dan menuju ke Pangkal Pinang untuk mencapai Belitung. Padahal, jarak keduanya cukup jauh karena Pangkal Pinang berada di Pulau Bangka. Jadi, kalau mau ke Belitung, pastikan beli tiketnya ke Tanjung Pandan (TJQ) yaa…

image
Bandara HAS Hanandjoeddin di Tanjung Pandan, Belitung.

Sesampainya di bandara kecil yang hanya dijangkau oleh tiga maskapai penerbangan tersebut, pengunjung bisa menyewa mobil atau bus. Namun, menurut seorang travel agen di Belitung, Adi, hal ini sangat tidak direkomendasikan karena harga sewanya yang cukup mahal.

“Kami sarankan wisatawan untuk terlebih dahulu memilih paket wisata, karena transportasi umum di Belitung cukup sulit. Tidak ada angkot di sini. Kalaupun ada sewa mobil, biayanya juga cukup mahal, bisa mencapai Rp 500.000 per hari. Sementara kalau untuk taksi bisa Rp 100.000 per orang,” jelasnya.

Adapun salah satu tempat yang wajib dikunjungi jika bertandang ke Belitung adalah pantai Tanjung Kelayang. Pantainya yang berpasir putih lembut dengan warna laut biru muda cukup menyedot perhatian wisatawan dari sana pengunjung bisa menumpang kapal boat untuk menuju pulau-pulau kecil di sekitarnya.

Perjalanan laut dari Tanjung Kelayang menuju tempat pertama, Batu Garuda adalah sekitar 30 menit. Meski begitu, wisatawan tidak akan bosan karena di laut, wisatawan bisa berfoto di kapal dengan latar laut yang biru. Selain itu, gugusan pulau kecil yang rata-rata merupakan pulau berisi batu-batu di sekelilingnya dijamin memberikan keindahan yang tidak terlupakan.

Di Batu Garuda, pengunjung disajikan batu yang mirip dengan burung garuda. Pengunjung bisa berfoto. Tidak lama kemudian, kapal akan bertandang ke Pulau Pasir yang jaraknya sekitar 15 menit dari lokasi Batu Garuda. Pulau Pasir adalah sebuah pulau kecil di lautan, pulau ini hanya terdiri dari daratan kecil dari pasir putih yang lembut.

image
Saya foto di Baru Garuda

Pemandangan di Pulau Pasir tidak kalah bagusnya dengan Batu Garuda. Bedanya, di sini, wisatawan bisa berfoto dengan latar pasir dan laut berwarna gradasi putih, biru muda, turquise, dan makin jauh makin berwarna biru. Jika beruntung, wisatawan bisa berfoto dengan bintang laut dan batu karang yang terbawa ombak.

image
Memandang samudera yang luas diselingi batu-batu

Puas berfoto di Pantai Pasir, wisatawan akan diantarkan menuju Pulau Lengkuas. Sebuah pulau yang letaknya sekitar 15 menit perjalanan laut dari Pulau Pasir. Di sana, terdapat sebuah mercusuar dari besi yang kabarnya merupakan peninggalan Belanda. Selain itu, ada juga batu-baru besar, icon pantai di Belitung yang lengkap dengan pantai yang lagi-lagi seperti surga!

image
Bang Edwin berfoto di Pantai Pasir.

Selain berfoto dan mendaki batu-batu besar tersebut, tentunya wisatawan juga bisa berenang sembari bermain air. Puas berfoto, wisatawan yang ingin melihat keindahan laut dan pulau-pulau di Belitung dari ketinggian, bisa menaiki menara. Tetapi, saat naik tangga yang terbuat dari besi, disarankan untuk tidak mengenakan alas kaki. Adapun anak tangga yang harus didaki sekitar 300an anak tangga, dengan jumlah lantai sebanyak 18 tingkat.

image
Kami berfoto di Pulau Lengkuas, ciri khas pulau ini, ada satu Mercusuar dengan 18 tingkat.

Meski begitu, lelah pun lunas terbayar karena setibanya di puncak menara, wisatawan langsung disajikan pemandangan surga Belitung. Pantai yang bening dan bersih, batu-batu besar yang tersusun rapi, kapal yang bersandar di pantai Lengkuas, hijaunya pepohonan di pulau Lengkuas semuanya berbaur menjadi satu pemandangan yang sangat menyejukkan mata. Di puncak menara, wisatawan juga bisa berfoto dengan latar pemandangan indah tadi.

image
Saya, Juwita, Ecci berfoto di atas Mercusuar dengan latar pantai biru muda.

Tidak hanya pemandangan tersebut yang bisa dinikmati wisatawan, travel agent akan mengajak wisatawan menikmati pemandangan bawah laut dengan ber-snorkeling.

Tempat snorkeling yang dipilih terletak tidak jauh dari Pulau Lengkuas. Hanya sekitar 3 menit saja dengan kapal. Di sana, wisatawan bisa langsung turun dari kapal dan melongok keindahan bawa laut pulau Belitung. Ada ikan-ikan kecil yang akan mendekat jika wisatawan menebarkan remah-remah roti. Selain itu, terumbu karangnya pun sangat cantik memukau sehingga sayang untuk dilewatkan.

Puas memandangi pemandangan bawah laut, wisatawan akan diajak menuju Pulau Kepayang. Di sana, terdapat tempat makan seafood yang cukup nikmat, lengkap dengan sup ikan, sup kepiting, tumis kangkung, dan segelas teh manis hangat yang akan memanjakan perut lapar usai ber-snorkeling.

Di Pulau Kepayang, wisatawan juga bisa melihat penangkaran penyu. Tetapi, untuk memotretnya, dilarang menggunakan kilat cahaya karena penyu kecil sangat sensitif. Memegang pun dilarang karena penyu bisa trauma dan sakit.

image
Pantai pasir

Rasa lelah pun tidak akan terasa lagi begitu menikmati indahnya Belitung. Meski begitu, ada yang tidak boleh dilupakan, yakni Pantai Tanjung Tinggi yang terletak 15 menit perjalanan darat dari Pantai Tanjung Kelayang.

Di tempat syuting film box office Indonesia Laskar Pelangi ini, wisatawan bebas berfoto hingga berenang di birunya pantai yang dikelilingi pasir putih dengan ombak yang cukup tenang. Foto pun akan cantik dengan latar belakang laut dan batu-batu besar!

Jadi, bila libur akhir tahun ini kamu belum punya rencana liburan, sempatkan untuk mengunjungi Belitung ya.. Karena, kini makin banyak travel dalam negeri yang menyajikan paket tour murah meriah serta open trip bila kamu bingung mau berlibur dengan siapa..

image
Saya narsis di Tanjung Tinggi

Ciao..

Tebing Keraton Bandung

Halo Worpress..

Ini saya menulis Jumat (13/11) malam saat langit Cibinong, Bojonggede, dan sekitarnya sedang diguyur gerimis yang mungkin akan menjadi makin deras. Masuk bulan November, hujan yang selama beberapa bulan begitu dinantikan mulai turun dan membuat jalanan yang tadinya berdebu jadi basah digenangi air, bahkan juga banjir.

Tapi, saya nggak ingin bercerita soal hujan. Saya mau sharing pengalaman saya ke sebuah tempat indah yang ada di Bandung, yaitu Tebing Keraton yang terletak di Dago Atas, masih di dalam Taman Hutan Raya Ir H Juanda.

Sebenarnya, sudah beberapa bulan lalu saya ke sana, yakni sebelum Tebing Keraton diperbaiki oleh Pemerintah Kota Bandung. Jadi, waktu itu jalanannya masih sangat sulit dilewati. Di dalam area Tebing Keraton pun masih berupa tanah liat sehingga selepas hujan, pasti tanahnya masih becek dan licin.

image
Pemandangan dari Tebing Keraton

Saya pribadi mengetahui lokasi wisata ini dari instagram dan postingan-postingan kawan saya di media sosial. Kemudian, saya langsung mencari tahu bagaimana untuk bisa sampai di sana. Awalnya, saya pikir lokasinya di Jawa Tengah atau bahkan luar Jawa. Tapi setelah riset di mesin pencari, saya mengetahui bahwa Tebing Keraton berlokasi di Bandung.

Saya sampai berpikir, dari dulu berpuluh-puluh kali saya ke Bandung, belum pernah rasanya ke Tebing Keraton. Padahal dulu salah satu teman saya kost di Dago, tidak terlalu jauh dari lokasi Taman Hutan Raya Ir H Juanda.

image
Di sana, ada satu batu yang iconic di ujung tebing

Rupanya, belakangan baru saya tahu, bahwa Tebing Keraton memang wisata baru di Bandung. Mulanya, tebing dengan pemandangan hijau nan menyejukkan mata itu memang belum dibuka untuk umum. Keindahannya baru terekspos setelah dibuka untuk wisatawan beberapa waktu lalu. Akibatnya, ribuan orang wisatawan, khususnya, muda mudi langsung tertarik melihat lukisan hijau karya Tuhan itu.

image
Pengunjung Tebing Keraton saat weekend membeludak

Nah, bagaimana saya bisa sampai ke sana? Untuk menjangkau Tebing Keraton, memang diperlukan effort yang lebih dibandingkan ke lokasi wisata lainnya di Bandung. Kenapa? Soalnya jalannya sangat terjal. Naik turun dengan kondisi jalan yang sebagian besar tidak dipelur. Eh, tapi itu beberapa bulan lalu ya. Kalau sekarang mungkin sudah dipelur ya, karena waktu itu juga separuh jalan sedang dalam proses pembetonan. Mungkin sekarang sudah jadi?

Seingat saya, selama perjalanan dengan motor, banyak motor yang tidak kuat nanjak sehingga dituntun oleh pengemudinya. Penumpangnya pun juga harus berjalan kaki sembari sedikit mendorong motor agar bisa sampai ke atas. 

Lalu bagaimana dengan pengunjung yang menggunakan mobil? Tenang, di titik tertentu, warga sekitar memanfaatkan dengan menjajakan jasa transportasi berupa ojek. Sayangnya, untuk mendaki medan berat tersebut dengan jasa ojek, penumpang dikenai biaya hingga Rp 50.000 per orang.

Makanya, wisatawan yang datang saat itu lebih banyak yang membawa motor meski harus sedikit mendorong-dorong jika motornya mendadak tidak kuat nanjak.

Buat yang belum pernah ke Tebing Keraton, sebenarnya cukup mudah bila kita sudah ada di daerah Dago. Dari Mc Donals Dago, kita bisa lurus terus melewati Sheraton dan terminal Dago. Selanjutnya, tidak jauh dari terminal, kita akan melihat jalan bercabang.

Pilih yang arah kanan, yakni jalan menuju Bukit Dago Pakar. Selepas itu, nanti beberapa ratus meter ke depan ambil jalan ke kanan atau masih ke arah Bukit Dago Pakar.

Tidak jauh dari sana, tepatnya di dekat minimarket Indomart ada belokan ke kiri arah Taman Hutan Raya Ir H Juanda ambil belokan ke kiri. Setelah sampai di kawasan Taman Hutan Raya Ir H Juanda, jangan dulu berbelok karena tujuan kita masih cukup jauh. Dari situ, ambil kiri, ikuti jalan aja sampai ketemu warung tempat banyak orang beristirahat sembari minum bandrek.

Seingat saya, di situ juga merupakan pos pangkalan ojek. Sehingga selalu ramai dengan pengemudi ojek yang menawarkan jasanya kepada wisatawan yang (sudah pasti) mobilnya tidak bisa menanjak sampai atas. Dari situ, butuh waktu sekitar 1,5 Km (jalan menanjak tajam) untuk sampai di gerbang Tebing Keraton.

Beruntung, saat tiba di sana motor yang saya tumpangi kuat nanjak sehingga meski berjalan perlahan sampailah kami di depan gapura masuk Tebing Keraton. Di belakang gapura tersebut, ada loket tempat penjualan karcis.

Seingat saya, untuk bisa menikmati pemandangan cantik dari atas Tebing Keraton, wisatawan diharuskan membayar uang retribusi sebesar Rp 11.000. Selain bisa masuk ke Tebing Keraton, tiket juga berlaku untuk masuk ke Taman Hutan Raya Ir Juanda yang juga sayang untuk dilewatkan.

Dari pintu masuk, kita hanya tinggal berjalan kaki ke arah tebing yang sudah dipagari. Meski begitu, setibanya di sana kita tetap harus berhati-hati. Saat saya ke sana, kondisi tanahnya memang sedang becek, sehingga jangan sampai salah sepatu atau nanti bakal kepleset. Usahakan gunakan sepatu dengan sol yang tidak licin.

image
Sudah dipagari, tapi tetap harus berhati-hati

Tetapi, beberapa hari lalu, saya baca koran Pikiran Rakyat, koran tersebut menyebutkan, setelah sebulan direnovasi Tebing Keraton kembali dibuka untuk wisatawan. Salah satu perubahan yang terasa, yakni tanah licin sudah ditutupi dengan paving block sehingga tidak ada lagi tanah licin dan becek. Pengunjung yang hendak berkunjung pun bisa lebih nyaman dengan adanya perubahan ini.

image
Artikel di koran tentang Tebing Keraton setelah direnovasi

Ngomong-ngomong, pemandangan dari Tebing Keraton sungguh indah. Menurut saya, semuanya sepadan dengan bagaimana perjalanan mencapai lokasi tersebut. Puas berfoto di sana, saya lalu melanjutkan perjalanan dengan turun kembali ke Taman Hutan Raya Ir H Juanda yang tidak kalah hijaunya. Seperti diketahui, di sana ada Goa Belanda dan Goa Jepang yang kabarnya memiliki nilai mistis.

image
Salah satu spot di Tebing Keraton
image
Gua Belanda di dalam Taman Hutan Raya Ir H Juanda

Berhubung saya belum pernah ya saya masuk saja. Alhamdulillah, tidak terjadi apa-apa di dalam karena waktu itu saya masuk ramai-ramai dengan pelajar SMA yang kebetulan sedang menikmati hari libur di sana.

image
Beberapa lokasi yang bisa dikunjungi di Taman Hutan Raya Ir H Juanda

**
Sebagai informasi, tempat wisata ini cocok dikunjungi jika kita tidak punya banyak waktu libur seperti saya ini, yang hanya libur Sabtu atau Minggu saja. Saya sendiri dari Jakarta memilih berangkat Sabtu siang sehingga setibanya di Bandung bisa punya waktu untuk istirahat sejenak. Atau, bisa juga digunakan untuk berjalan-jalan menikmati suasana Kota Bandung.

Kalau tidak punya kenalan di Bandung yang bisa ditumpangi, sebenarnya Bandung menyajikan penginapan yang terjangkau. Caranya, riset dulu melalui internet cek penginapan yang sekiranya terjangkau dan sesuai budget. Saya sendiri memilih hotel Villa Bukit Dago yang terletak  tidak jauh dari lokasi Tebing Keraton.

One day trip to Bandung…

Hello WordPressers.. Lama tidak posting di sini membuat saya bingung mau nulis soal apa. Rasanya malu sekali, seorang wartawan yang setiap hari kerjaannya nulis, tetapi tidak sempat menulis di blognya sendiri. Malu sekali sama blogger yang suka datang ke acara launching produk A, B, C, dan seterusnya dan menyempatkan diri menulis, tetapi saya yang kerjaannya menulis malah seolah tidak punya waktu untuk posting di blog sendiri.

Jadi, saya mau aktif menulis lagi di blog ini. Bukan tulisan yang menginspirasi atau menjual sesuatu. Tapi sekadar jadi pengingat buat saya sendiri untuk terus menekuni hobi saya. Dan membebaskan diri saya untuk menulis apa yang saya rasakan, lihat, dan pikirkan. Bukan reportase dari apa yang orang rasakan, lihat, dan pikirkan.

Ya, cerita hari ini adalah ulasan singkat saya tentang perjalanan saya dan empat teman wartawan saya ke Bandung pada 24 Oktober 2015.

Bandung, buat saya pribadi, kota yang dijuluki Kota Kembang ini memiliki makna dan masa lalu yang.. mungkin tidak bisa saya lupakan. Tetapi, saya tidak ingin menghapus kenangan, saya hanya berusaha membuat kenangan baru dengan orang-orang baru yang sekarang mengelilingi hidup saya.

Ide untuk menunaikan one day trip to Bandung ini muncul atas gagasan kami bersama dalam grup whatsapp. Maklum, pekerjaan kami yang polanya 61 membuat waktu libur hanya 1 hari dalam seminggu. Karenanya, munculah ide untuk traveling keliling Bandung dalam satu hari.

Mengingat macetnya kota Bandung saat akhir pekan, kami berempat sengaja memilih tempat wisata yang berada di satu kawasan. Kami akhirnya memilih Lembang setelah menimbang-nimbang.

Untuk menuntaskan piknik singkat dalam satu hari ini, kami sengaja memilih untuk berangkat pada Jumat malam, setelah kami memastikan pekerjaan sudah beres. Saya dan kawan-kawan akhirnya memutuskan untuk naik kereta karena memang belum pernah naik kereta ke Bandung, ya, itung-itung sih biar perjalanannya terasa seperti hendak liburan.

Karena menggunakan kereta di Jumat malam, hari menjelang weekend, kami berpikir pasti banyak pekerja asal Bandung di Jakarta yang ingin mudik. Makanya, tiket kereta sengaja dipesan 2 mingguan sebelumnya. Nah, setelah menempuh perjalanan kereta selama 3 jam, sampailah saya di Kota Bandung. Kami lalu bergegas menuju rumah teh Siska karena hari sudah larut malam.

Kamipun langsung istirahat begitu sampai. Ini bertujuan untuk menyimpan tenaga lantaran esok paginya, kami harus ekstra fit untuk melakukan perjalanan.

Esoknya….
Karena kami semuanya perempuan, teh Siska sudah mempersiapkan segala akomodasi kami selama satu hari nanti. Untuk menghemat pengeluaran, saya dan kawan-kawan menyewa mobil lengkap dengan pengemudinya. Kebetulan, yang mengantarkan kami ke sana sini adalah teman teh Siska, jadi bisa dimintai tolong untuk memfoto kami. Hehe, plus, lebih tahu dengan kondisi lalu lintas.

Ohya, saya sudah sempat bilangkan kalau kami memilih Lembang untuk menghindari kemacetan di kawasan kota? Total ada empat tempat yang kami sambangi dalam satu hari.

1. Floating Market atau Pasar Apung Lembang
Seperti namanya, pasar apung menyajikan pemandangan situ (danau) yang indah, tertata rapi, dan baru dibuka Desember 2012. Wisata floating market ini memiliki konsep kuliner di alam dan merupakan satu-satunya pasar apung di Bandung.

image
Salah satu spot foto di Floating Market Lembang

Dimana, setidaknya ada lebih dari 40 perahu yang berjualan di pinggir danau. Sementara, pengunjung bisa makan berbagai makanan yang disajikan di sana. Mulai dari ubi, singkong, dan pisang rebus, karedok, gorengan, tutut, nasi rames, crepes, kebab, rujak, dan sebagainya ada di sini.

image
Beberapa jenis makanan yang dijual di Floating Market

Selain makanan, pengunjungnya juga bisa bermain bersama kelinci di sebuah taman kelinci, bisa juga naik kereta-keretaan, naik perahu mengelilingi danau, belanja oleh-oleh, melihat miniatur kereta api, hingga memberi makan ikan di danau. Semuanya lengkap.

image
Jangan lupa berfoto di pinggir danau
image
Berfoto di jembatan

Saya sendiri setelah kenyang memilih untuk berkeliling danau dengan perahu dayung yang muat untuk empat orang.

image
Sempatkan naik perahu di floating market

2. Wisata Berkuda De’Ranch
Puas dengan wisata floating market, kami langsung menuju ke De’Ranch. Tempat ini sudah cukup akrab bagi wisatawan yang suka berkuda dan hendak merasakan pengalaman berkuda, tentunya didampingi oleh pawang kudanya. De’Ranch tidak hanya menyuguhkan lokasi untuk berkuda. Buat anak-anak, ada berbagai tempat bermain yang disediakan. Misalnya miniatur tempat menambang emas, perahu kayuh dengan tangan, flying fox mini, serta permainan outbond lain.

image
Saya naik kuda dulu ya...

Sementara untuk orang dewasa, bisa naik kuda mengelilingi area De’Ranch dengan kostum cowboy dan juga Indian. Bisa juga naik delman kuda ala-ala Mexico. Flying fox dan miniatur wall climbing pun tersedia di sana. Selain itu seperti di Floating Market, pengunjung juga bisa berkuliner di sini dengan menu-menu dari daging seperti sate ayam, sate sapi, hingga sosis. Selain itu, juga ada coffee corner di dalamnya bagi mereka yang suka kopi.

image
Kostum berkuda di De'Ranch

3. Serba Susu
Serba Susu adalah sebuah toko yang menyajikan aneka makanan dan minuman berbahan susu. Terletak tidak jauh dari De’Ranch. Sehingga cukup sayang untuk dilewatkan. Apalagi, semua makanan dan minumannya sangat nikmat karena terbuat dari susu murni dan segar. Beberapa jenis makanan yang dijual di sini, di antaranya adalah permen susu, susu murni aneka rasa, yoghurt, ice cream, yoghurt ice cream, keripik, dan lain-lain.

image
Sibuk makan

4. Gunung Batu Lembang
Gunung Batu Lembang adalah tempat wisata outdoor yang tidak dikelola oleh siapa-siapa. Sehingga, untuk ke sana, tidak perlu bayar alias gratis saja. Cukup menyenangkan karena bisa hiking singkat dengan track yang menantang bagi pemula seperti saya.

Sampai puncak, lokasi ini biasa digunakan untuk pengamatan jalur migrasi terbangnya burung. Sementara, di bagian tebing batunya, digunakan oleh para pecinta outdoor activity untuk latihan climbing.

image

Perjalanan ke puncaknya hanya butuh waktu kurang dari 15 menit untuk pemula. Begitu sampai di puncak, kita bisa melihat pemandangan kota Bandung yang indah dari ketinggian. Tidak hanya itu, nuansa hijau pegunungan pun terlihat mirip dengan Tebing Keraton di Dago Atas, Bandung. Sayangnya, karena tidak dikelola, tempat ini jadi banyak sampah berserakan seperti botol air mineral, hingga plastik bungkus makanan kemasan.

image
Berhasil sampai puncak

Setelah rampung semua tempat, kami pun memutuskan untuk pulang. Tapi, sebelum pulang kami menyempatkan diri untuk makan hidangan khas sunda di Punclut.

Keesokan paginya, karena harus kembali bekerja, saya dan kawan-kawan (minus teh Siska) pun kembali ke Jakarta dengan kereta.

**
Rincian biaya perjalanan:
– Tiket kereta Argo Parahyangan kelas bisnis Rp 80.000, eksekutif Rp 100.000
– Sewa kendaraan, bensin, dan pengemudi Rp 100.000/ orang
– Tiket masuk Floating Market Rp 15.000/ orang, mobil Rp 5000
– Perahu di Floating Market Rp 20.000/ orang atau Rp 70.000/ 4 orang.
– makanan dan minuman di Floating Market sekitar Rp 50.000 per orang
– Taman Kelinci Floating Market Rp 20.000/ orang
– Tiket masuk De’Ranch Rp 10.000/ orang
– Naik kuda Rp 25.000/ orang
– Flying fox Rp 20.000/ orang

Wisata Curug Leuwi Hejo atau Curug Hejo di Sentul Kabupaten Bogor

Wisata Curug Leuwi Hejo atau Curug Hejo di Sentul Kabupaten Bogor

Menikmati hari libur rupanya tidak perlu jauh-jauh. Di Kabupaten Bogor, tepatnya di Desa Babakan Madang yang letaknya tidak jauh dari Sentul, terdapat sebuah tempat wisata yang sedang ramai diperbincangkan orang.

Curug (air terjun dalam bahasa Sunda) Leuwi  Hejo atau yang biasa disebut Curug Hejo bisa jadi pilihan untuk liburan kamu. Memang, dibandingkan dengan Curug Cinangka atau Curug Cilember yang terletak di kawasan Puncak, Curug Hejo belum begitu dikenal masyarakat Jakarta. Meski begitu, keindahannya sangat memanjakan mata. Airnya yang jernih dan berwarna seperti batu zambrud membuat orang yang datang langsung ingin berenang.

Curug Leuwi Hejo merupakan sebuah air terjun mini yang ditampung oleh kolam kecil berwarna hijau dengan air yang sangat jernih. Tidak hanya jernih, airnya pun sangat dingin. Curug tersebut sebenarnya adalah aliran sungai Cileungsi. Menurut penduduk setempat, karena pancaran air ketika terkena sinar matahari berwarna hijau maka disebut Leuwi Hejo. Letaknya pun berada cukup jauh di bawah kaki bukit.

Denger-denger sih… Curug ini baru ramai setelah banyak traveler yang datang terus fotonya diunggah ke socmed.

Nah beberapa waktu lalu saya sempat ke sana. Tempatnya nggak jauh dari pintu keluar Sirkuit Sentul. Dari sana, saya kemudian melanjutkan perjalanan ke Desa Babakan Madang yang jaraknya sekitar 30 kilometer atau kurang lebih satu jam dari Sirkuit.

Meski tidak ada petunjuk-petunjuk arah menuju Curug Hejo, tidak perlu khawatir karena arahnya searah dengan tempat wisata Jungle Land sehingga perjalanan bisa dilakukan berpatokan dengan itu. Sesampainya di pintu wisata Jungle Land, pengunjung bisa langsung melanjutkan ke arah Desa Babakan Madang. Karena hanya ada satu jalan kecil yang hanya cukup untuk dua mobil, maka cukup mudah untuk mencarinya.

Selanjutnya, akan ada percabangan jalan menuju tempat wisata alam pemandian air panas Gunung Pancar. Agar tidak salah, jangan belok ke kanan, tetapi belok kiri ke arah desa Karang Tengah. Dari sana, ikut terus jalan hingga bertemu pelang “Selamat Datang di Wisata Alam Curug Bengkok, Leuwi Hejo, Curug Barong”. Posisinya terletak di sebelah kanan jalan.

Sayangnya, tidak ada kendaraan umum untuk mencapai lokasi tersebut. Kalaupun ada, kendaraan tersebut hanya sampai di Pasar Babakan Madang. Karenanya, disarankan untuk menggunakan mobil pribadi atau untuk mempermudah perjalanan gunakanlah sepeda motor. Karena lokasinya terletak di perbukitan dengan kontur jalan yang diwarnai dengan tanjakan dan turunan dengan aspal yang tidak rata dan diselingi bebatuan membuat kendaraan bermotor harus berhati-hati.

Selain itu, jalan yang cukup licin disertai dengan beberapa ruas jalan bekas longsor harus diwaspadai agar tidak terjadi kecelakaan.

Setibanya di tempat penitipan kendaraan, pengunjung masih harus berjalan kaki selama 30 menit. Namun, sebelumnya pengunjung harus membayar iuran masuk seharga Rp 10.000 per orang. Sementara, parkir kendaraan roda dua ditarif Rp 5000, dan tarif parkir kendaraan roda empat sebesar Rp 15.000.

Pejalan kaki pun harus melewati jalan menurun yang sangat curam. Lintasannya pun bukan jalan permanen, tetapi jalan dari tanah liat yang diselingi bebatuan untuk mengurangi jalan licin. Beberapa kali, saya pun sempat terpeleset karena jalan setapak yang licin. Setelah melewati jalan setapak tadi, lelahpun terbayar sedikit demi sedikit. Pertama, terdengar suara aliran air dari sungai menandakan kita sudah hampir sampai ke lokasi Curug Hejo. 

Setelah lelah berjalan, jangan khawatir tidak ada tempat beristirahat.. Pengelola yakni masyarakat setempat menyediakan warung-warung kecil yang menjual makanan ringan seperti mie dalam kemasan, kopi hangat, minuman dingin, pisang goreng, hingga gorengan jenis lainnya.

Dari lokasi warung-warung tersebut, pengunjung harus berjalan ke bawah untuk bisa menyusuri sungai dan akhirnya sampai di Curug Hejo yang airnya seperti zambrud.

Untuk mencapai ujung Curug Hejo, diperlukan waktu sekitar 15 menit dari aliran sungai. Hal ini karena jalan yang dilalui tidak lagi berbentuk jalan setapak. Melainkan bebatuan besar yang licin, diselingi dengan air dan tanah liat. Media untuk pegangan pun sangat jarang. Karenanya, untuk perempuan yang hiking, disarankan untuk berjalan bersama dengan teman lelaki yang bisa membopong atau memapah kala jalan begitu tidak bersahabat.

Untuk bisa melewati jalan ini, sangat tidak dianjurkan untuk berjalan dengan sandal atau sepatu yang alasnya licin. Pengunjung harus memilih sepatu olahraga yang tidak licin. Bahkan, beberapa pengunjung ada juga yang melepas alas kakinya. Tetapi jangan khawatir, sembari berjalan menuju Curug, kita disajikan dengan pemandangan yang bawah tebing yang begitu indahnya. Hutan hijau yang tentunya tidak ada di Kota Jakarta!

Begitu tiba di Curug Hejo, perjalanan panjang yang sulit itu pun tidak lagi terasa. Semuanya jadi lunas terbayar ketika mata memandang pancuran air yang putih, kolam air yang begitu bening, dingin, dan pepohonan serta udara sejuk di sekelilingnya.

Tidak hanya berenang, pengunjung juga bisa melompat dari batu besar di samping pancuran air. Di sana, disediakan seutas tali tambang yang bisa dijadikan pegangan untuk mendaki batu tersebut. Banyak sekali pengunjung curug yang  lompat dari atas batu setinggi satu meter tersebut dan ‘byuuuur’ langsung sampai di air yang pantulannya berwarna kehijauan.

Saran saya, kalau mau ke sana harus membawa baju ganti. Soalnya sayang kalau melewatkan acara berenang dan basah-basahan di Curug Hejo yang sungguh indah itu.

Kedalaman air pun cukup dalam, yakni sekitar tiga meter. Karenanya, bagi mereka yang tidak bisa berenang harus hati-hati dan disarankan untuk tidak melakukan lompatan dari atas batu. Meski tidak ikut melompat dan berenang-renang di dalam kolam mini tersebut, banyak juga pengunjung yang hanya bermain air sembari berfoto-foto ria bersama teman-temannya menggunakan kamera ponsel dan tongkat narsis (tongsis, -red).

Air terjun mini dan kolam berwarna hijau tersebut menjadi latar belakang foto, kemudian mengunggahnya ke akun sosial media.

image
Teaser dulu ya.... Saya lagi di sungai nih sebelum hiking ke arah Curug Hejo
image
Curug Hejo
image
Boleh yaa sedikit narsis
image
Saat libur, Curug Hejo begitu penuh pengunjung

Nah itu tadi hasil jalan-jalan saya beberapa waktu lalu ke Curug Hejo. Psst.. Saran saya kalau mau ke sana lebih enak pagi-pagi. Soalnya Curug Hejo ditutup untuk pengunjung jam 18.00.

Menikmati Malam Minggu di Lusso Cafe and Resto Bogor

Malam minggu cenderung dimanfaatkan para muda mudi untuk bercengkerama dengan teman. Di kota hujan, Bogor, ada sebuah tempat yang cukup nyaman untuk sekadar menghabiskan waktu malam minggu bersama dengan kawan-kawan maupun keluarga.

Lusso Cafe and Resto bisa menjadi pilihan untuk berbagi cerita sembari menyantap makanan enak dengan harga yang cukup terjangkau di kantong.

Terletak di Jalan Ahmad Yani nomor 124, Bogor, cafe ini memang sedikit sulit ditemukan karena letaknya yang di tikungan. Tetapi, dari arah Plaza Jambu Dua Bogor, pengunjung hanya tinggal jalan lurus hingga Pertigaan Dadali, selanjutnya, pengunjung akan melitar plang Lusso.

Higin, Store Manager Lusso Cafe and Resto, menyebutkan, cafe ini sudah buka sejak Januari 2014, namun baru mulai ramai pada sekitar Agustus 2014.

“Awal buka dari Januari 2014, tetapi dari kurun waktu Januari-Agustus belum ada plangnya, jadi sedikit yang tahu kalau di sini ada cafe. Apalagi, lokasinya memang unik,” kata ketika berbincang dengan saya.

Higin menyebutkan, meski sudah satu tahun berjalan, tetapi, Lusso Cafe and Resto masih terus berbenah untuk memuaskan keingintahuan pengunjung tetang cafe ini. Pasalnya, begitu menginjakkan kaki di Lusso Cafe and Resto yang memiliki tiga lantai, pengunjung akan menyaksikan tiga konsep berbeda di setiap lantai.

Di lantai satu, pengunjung akan menikmati konsep heritage. Higin menjelaskan, hal ini dimaksudkan untuk memperlihatkan ke pengunjung, bahwa awal buka, Lusso Cafe and Resto pernah bernuansa etnik dengan berbagai pajangan dan dekor antik seperti patung nutcraker, pajangan frame, hingga sofa-sofa model lama.

Selanjutnya, jika memilih tempat di lantai dua, pengunjung bisa memilih untuk duduk di meja panjang, atau meja makan biasa. Higin mengatakan, konsep di lantai dua adalah art atau seni. Hal ini diperlihatkan dengan lukisan dinding bergambar tangan yang hendak saling menggapai. Dindingnya juga tidak dicat untuk menambah kesan nyeni. Nantinya, kata Higin, per caturwulan akan ada seniman Bogor yang diberi ruang untuk berekspresi.

“Seniman grafis atau design, mereka bisa menampilkan karyanya. Nanti juga di tangga, akan saya beri tiga frame yang berisi karya dari seniman tersebut. Jadi nuansanya semacam eksibisi,” kata Higin lagi.

Berbeda lagi dengan lantai tiga yang jadi favorit pengunjung. Berkonsep urban garden, pengunjung akan merasa sedang berada di musim gugur karena di cafe yang menyediakan rooftop itu, bagian atapnya dihiasi dengan autumn leaves plastik.

Daun oranye dan hijau menjadikan pengunjung seperti sedang ada di Eropa menikmati musim gugur bersama teman-teman sembari menyantap makan siang, atau malam. Terlebih, bangku-bangku kayu yang merupakan bahan bekas impor menjadikan Lusso Cafe and Resto makin nyaman.  Tidak hanya itu saja, cafe ini juga digunakan untuk pre-wedding foto secara gratis dengan syarat dan ketentuan berlaku.

Higin mengatakan, ketiga konsep tersebut sengaja dipilih agar pengunjung bisa memilih bagian mana yang paling ingin mereka nikmati dari Lusso Cafe and Resto.

Sementara, untuk hidangan, Higin mengatakan, menu dari Lusso Cafe and Resto sebagian besar didominasi oleh makanan Eropa seperti pizza dan chicken cordon bleu. Pengunjung yang menyantap chicken cordon bleu milik Lusso Cafe and Resto tentu akan mengacungi jempol karena rasanya yang enak, empuk, dan bumbu yang pas.

Pengunjung juga bisa menikmati hidangan lain seperti pasta, zuppa soup, hingga hidangan di hot plate. Sisanya, layaknya cafe lain, pengunjung bisa memesan french fries atau kentang goreng, tiramisu, pofferjes, roti dan pisang bakar, hingga jajanan pasar yang sedang gandrung, kue cubit. 

Untuk minuman, Higin menyebutkan, menu minuman yang menjadi favorit adalah yang berbahan susu seperti milkshake, smoothies, hingga ice blended. Selain itu, ada juga mocktails yang bebas alkohol dan sangat disukai pengunjung. Salah satunya Lusso Apple Green Yum. Melalui minuman ini, pengunjung akan merasakan sensasi minuman rasa apel yang asam manis, disertai dengan potongan buah apel membuat minuman terasa sangat segar di mulut.

Lalu, berapakah kisaran untuk harga makanan di Lusso Cafe and Resto? Menurut Higin, di antara cafe-cafe lain di bilangan Ahmad Yani dan sekitarnya, Lusso Cafe menyajikan makanan dengan harga yang lebih murah. Hal ini karena target pengunjungnya yang di bawah usia 30 tahun atau usia mahasiswa.

“Dari segi pricing, kami berusaha memberikan value added dengan harga yang lebih murah. Dimana, untuk harga yang sama di cafe lain, di Lusso Cafe and Resto pengunjung bisa menikmati makanan yang lebih baik,” katanya.

Harga makanan dan minuman di Lusso Cafe and Resto cukup terjangkau, yakni mulai Rp. 4000 untuk menu minuman tea hingga yang termahal Rp 15.000 untuk mocktails. Sementara, untuk makanan, berkisar Rp 15.000 hingga Rp 50.000. 

Bicara kapasitas tempat, Higin mengatakan, cafe berlantai tiga tersebut memiliki kapasitas di atas 100 seat. Terdiri dari 16 seat di lantai satu, 25 seat di lantai dua, dan 70 seat di lantai tiga. Sementara untuk jam operasional, Lusso Cafe and Resto buka mulai pukul 11.00-23.00 untuk weekdays dan khusus weekend pukul 12.00-24.00.

Penilaian saya….

Lusso Cafe and Resto dari segi tempat saya beri nilai 9 dari 10. Tempat yang nyaman, dsun-daun autumn yang meskipun dari plastik ternyata memberikan pemandangan yang sangat indah. Belum lagi angin sepoy-sepoy yang berhembus ditambah wifi gratis membuat saya betah.

Dari segi harga, I give Lusso 8 out of 10. Kenapa? Karena harganya sangat terjangkau dan ramah di kantong. (Meskipun ketika saya ke sana Higin mentraktir saya sehingga saya tidak mengeluarkan uang dari dompet.. Terima kasih pak manager…Hehe)

Sementara, dari segi rasa makanan… I give them 8 out of 10. Rasanya enak! Apalagi chicken cordon bleu nya. So yum!

Sayangnya, dari segi pelayanan, buat saya pribadi perlu perbaikan. I give poin 7 out of 10. Kenapa? Soalnya setelah memesan beberapa kali mas waitersnya mendatangi saya dan bertanya pesanan saya hingga beberapa kali. Terus, mas waitersnya juga sempat memberi saya menu yang tidak saya pesan.. Uh… Si mas.. Simak saya baik-baik dong…

image
Lusso Cafe and Resto from behind

But over all, I love the cafe 😉

image
Having a time taking picture of the 3rd floor.. Love!