Persepsi tentang sesuatu (kalimat/benda/manusia atau apapunlah)
November 25, 2009
July 1st 2009
I need you, but the world need you more
Pernah denger kata-kata itu nggak? Pasti nggak pernah.
Iyah, kata-kata itu. Maksudnya kata-kata “I need you but the world need you more” gue kutip dari serial Smallville. Gak tahu ya smallville itu apa? Smallville itu film tentang kisah (boros ya?) masa mudanya Clark Kent si superman di kota kecil, yang dikasih nama Smallville, sebelum dia pindah di Metropolis. Disana waktu Clark Kent (yang maen gantenggg banget asli, namanya Tom Welling) masih SMA, sebelum dia jadi superman, sebelum dia di daily planet, sebelum dia sukanya sama Lois Lane, dia pernah naksir sama perempuan namanya Lana Lang.
Sebenernya dua-duanya saling suka gitu, tapi karena sebab A dan sebab B, mereka ga bisa sama-sama. Lupa juga sih gimana akhirnya mereka berdua.. ada satu bagian pas akhirnya Lana Lang tau kalo Clark Kent itu bukan manusia biasa, atau tepatnya sih dia tahu kalo Clark itu bukan manusia, karena dia berasal dari planet luar bumi, namanya Krypton. Dan nama dia sebenernya adalah Kal El, dimana orang-orang yang berasal dari Krypton itu kekuatannya dahsyat abis.
Terusss… Lana Lang sadar kalo Clark itu adalah penyelamatnya bumi, makanya dia rela ngorbanin perasaannya dan bilang ke Kent “I need you but the world need you more”. Gitu..
Dan btw, bertanya-tanya ya kenapa gue bikin kayak ginian? Hmmm, alasan pertama dan utama sih udah jelas, karena gue ngga punya kerjaan. Isenglah. Begitu kata orang-orang.
Alasan kedua sih, ya… karena tiba-tiba gue inget kata-kata itu aja. Hehehe. Menurut gue itu dalem aja. Pernah gak sih kepikiran betapa banyak resiko perempuan-perempuan yang jadi pasangannya superhero-superhero kayak superman, batman, hmmm,, siapa lagi ya? Suberboy, super.. super.. super.. super.. ah, banyaklah super yang lain. Pisang super juga bolehlah (??) hahaha J
Yah, gimana nggak, perempuan-perempuan itu kadang juga jadi sasaran penjahat kalo lagi mau nangkep si superhero, atau beresiko kehilangan cintanya? Hmm, so human! Itukan cuma di dunia komik, film, dan sebagainya dan sebagainya, tapi kalo di dunia nyata juga ada loh, misalnya kayak istrinya pilot, istrinya tentara yang lagi ditinggal buat perang. Kebayang gak sih gimana kalo pilot itu meninggal pas lagi tugas? Karena pesawatnya kecelakaan gitu? Atau tentara yang lagi perang itu ketembak di jantungnya demi membela sesuatu? Kebayang juga ga gimana rasanya jadi perempuan-perempuan yang ditinggal itu? Huff.. think it your self.
alasan ketiga, hmmm Karena gue adalah orang aneh yang suka mikirin satu kalimat berulang-ulang ampe kebayang-bayang terus. Ya, gak penting sih emang. Tapi pernah gak sih kita mikirin kayak gini? Mikirin tentang satu kalimat atau perkataan orang lain yang bener-bener ngubah persepsi kita tentang sesuatu? Yang ngebuat kita jadi mikir lain tentang hal yang awalnya nggak kita pikirin tapi tiba-tiba jadi begitu berarti buat kita?
Hmmm… sok tua nih gue. Tapi ya, renungkanlah, karena kita adalah manusia yang pada dasarnya nggak pernah memikirkan apa yang diluar batas pemikiran kita. Tapi orang lain bisa mikirin itu. Dan pemikiran itu membuat kita sadar tentang hal-hal penting yang nggak pernah kita sadarin sebelumnya.
Makanya, lewat tulisan ini, gue pengen berbagi pengalaman gue tentang hal-hal yang bersifat kayak gitu. Karena selalu ada sisi lain dunia yang nggak pernah kita bayangin, padahal itu sangat penting.
Terkadang kita ga sadar, sesuatu yang kecil punya impact yang besar buat kehidupan kita. Count it in!
“Untuk jiwaku yang menggemakan lonceng kekosongan
Namun tetap berjuang untuk bangkit kembali”
sehati
November 25, 2009
“Yah… kok sama-sama beli jeruk sih?”
Itu kata-kata yang sering banget diucapin sama nyokap gue kalo dia abis pulang dari Pasar Minggu dan ngeliat di rumah ada jeruk yang dibeli sama bokap gue.
Lalu seminggu kemudian bokap gue bilang..
“Ibu gimana sih, Bapak juga beli ayam nih..jadi dobel deh..”
Ya, itu juga kejadian yang sama, bokap gue sama nyokap gue sama-sama beli ayam. Padahal ngga janjian sebelumnya (ya iyalah ga janjian, ngapain juga beli ayam ampe dua ekor? Emang mau slametan?)
Udah gak heran kejadian kayak gini. Sering banget.. bokap nyokap sama-sama beli makanan yang sama. Entah itu jeruk, kacang panjang, ayam, martabak, apel, beras, sirup, yah,, semuanya deh.
Kalo kata tetangga-tetangga gue sih “SEHATI”. Haha, emang ya? Gue tadinya ngga percaya dengan bullshit macam sehati yang menurut gue cuma ada di sinetron. Lalu. Lo percaya kalo ada dua orang bisa sehati?
Bukan dua orang punya satu organ hati. Tapi ya.. lo tahulah.. bisa kebetulan sama, mungkin bukan kebetulan tapi emang udah ditetapkan.
Entahlah.
Kayak misalnya lo lagi pake baju kembaran sama temen lo meski nggak janjian. Biasanya pasti kita bilang
“Kok kita sehati gini ya?”
Jadi, lo percaya ada sepasang orang yang bisa sama-sama sehati?
Agustiiin, August, 1st 2009 11.26am
(tidak) semua perempuan egois
November 15, 2009
Mengapa saya memilih judul ini? Ya karena itu tergantung dari bagaimana kamu membacanya. Di satu sisi, itu bisa dibaca tidak semua perempuan egois, tapi bisa juga dibaca semua perempuan egois. Lalu kamu mau menyimpulkan bagaimana?
Saya pribadi sih lebih senang dengan yang kedua (lebih senang, bukan berarti saya menggeneralisasikan bahwa semua perempuan egois, tapi kembali lagi ini hanya pemikiran subjektif saya). Ohya, kalo belum berubah, saya ini juga masih seorang perempuan. Perempuan yang masih muda. 20 tahun usia saya. Lama juga ya saya hidup? Tidak terasa.
Kenapa saya lebih senang dengan yang kedua? Karena saya merasa bahwa saya ini adalah perempuan yang egois, begitu juga dengan perempuan-perempuan di sekitar saya. Ibu saya, teman-teman dekat saya, pacarnya teman-teman saya, saudara saya. Ah semua perempuan yang saya kenal itu egois. Meskipun pada dasarnya mereka semua sangat baik.
Contoh nyata keegoisan seorang perempuan itu dapat dianalogikan dengan saya.
Ehya, sebelum saya bingung antara egois dan kebutuhan untuk bertindak egois, saya akan memberikan satu definisi egois menurut kamus bahasa Indonesia yang disusun oleh Ananda Santoso dan A.R.AL Hanif dan diterbitkan oleh Penerbit ALUMNI Surabaya:
Egois “orang yang bertindak semaunya sendiri tanpa mempedulikan orang lain, orang yang mementingkan dirinya sendiri.”
Sampai dimana tadi ya? Oh, analogikan perempuan yang egois itu sebagai saya. Saya menganggap diri saya itu egois, sangat-sangat egois. Sehari yang lalu, saya baru saja meng-SMS sahabat saya (seorang laki-laki) yang luar biasa sabar menghadapi saya, singkatnya sih saya bilang ke dia kalo saya merasa kesepian tanpa dia, saya tidak bisa hidup tanpa dia, namun saya juga tidak bisa hidup tanpa orang yang saya cintai. Dan dia membalas, katanya saya kemarin yang menyuruhnya untuk tidak mempedulikan saya (dan saya juga sebenarnya bingung dengan sikap saya). Saya menginginkan dia untuk berada di sisi saya, namun saya tidak bisa memberinya apa-apa.
Saya bilang saya kesal sama dia, lalu dia balik bertanya “emang kamu pikir aku gak kesel sama kamu?” dan saya tau dengan pasti, bahwa ia pasti juga kesal dan marah sama saya. Dan kalau saya jadi diapun saya bahkan akan menghapus semua hal yang berhubungan dengan saya. Tapi dia tidak, dia masih begitu sabar menghadapi kelakukan saya, masih begitu setia menjadi sahabat saya. Saya jadi makin merasa egois.
Lalu saya memperbandingkan diri saya dengan seorang tokoh perempuan di drama Korea yang belakangan saya ikuti: Kang Hae Na namanya, dia menginginkan seorang teman laki-laki untuk berada di sisinya, namun dia juga tidak mau kehilangan seorang laki-laki yang dicintainya. Saya jadi makin egois. Apakah semua perempuan itu memang begitu?
Saya meminta maaf bila ada perempuan-perempuan yang tidak berkenan dengan pendapat saya, bahwa semua perempuan itu egois. Karena ini hanyalah sebuah pemikiran saya yang subjektif.
Agustin
“untuk jiwaku yang menggemakan lonceng kekosongan
Namun tetap berjuang untuk bangkit kembali”
pemikiran subjektif yang lain
November 15, 2009
“Kerentanan anak laki-laki dengan anak perempuan itu tidak sama, oleh karenanya ketika kita mengkaji tentang masalah ini, kita harus melibatkan perspektif gender dalam pemikiran kita.”
Kata-kata itu keluar dari mulut seorang dosen saya. Tidak persis seperti itu sih, tapi ya kurang lebih begitu. Dosen untuk mata kuliah perlindungan anak yang saya ambil di jurusan Kriminologi. Salut saya sekali padanya!
Ohya, saya mau bercerita sedikit.
Malam Minggu kemarin, saya baru saja ke rumah seorang teman saya, sebut saja Joko, usianya kurang lebih seusia dengan saya, 20 tahun (an). Lupa saya. Saya terkejut ketika mengetahui ia telah menikah, bahkan memiliki seorang bayi laki-laki yang luar biasa tampan. Ohya, teman saya ini laki-laki, pertama saya terkejut ketika melihat ada anggota baru di rumah tersebut. (karena kebetulan saya dengan keluarganya sudah seperti dengan keluarga sendiri, saya mengenal seluruh anggota keluarga hampir dengan baik) di keluarga tersebut ada seorang perempuan muda dengan usia yang kelihatannya masih lebih muda daripada saya. Sebut saja Bunga. Bunga sedang menyetrika pakaian.
saya bertanya pada mamanya teman saya “ini siapa tante?”
tante menjawab “ini istrinya Joko”
saya “…..” lalu kemudian tante datang dengan seorang anak laki-laki yang luar biasa tampan, 5 bulan usianya.
Saya bertanya lagi “itu siapa tante?” tante menjawab “ini anaknya Joko” saya “Ohhh.. lucu banget ”
di perjalanan pulang, saya kembali memikirkan perkataan dosen saya, kerentanan anak laki-laki dan anak perempuan itu berbeda. Lalu saya mengingat kuliah sebelumnya, bahwa salah satu bentuk eksploitasi anak adalah early marriage (pernikahan di usia muda).
Awalnya saya berpikir kalau pernikahan di usia muda bukanlah merupakan masalah, karena pernikahan itu (katakanlah) diinginkan, namun kemudian melihat kenyataan yang ada, saya berpikir bahwa tidak semua pernikahan di usia muda itu tidak berdampak buruk bagi anak-anak (terutama) perempuan.
Mengapa? Karena di usia yang masih relatif muda, anak seusia saya yang seharusnya masih menikmati masa muda harus disibukkan dengan masalah rumah tangganya, mengurus anak, mengurus suami, belum lagi mengerjakan pekerjaan ini itu.
Namun demikian, saya meminta maaf bila apa yang saya pikirkan ini salah. Karena ini hanyalah sebuah pemikiran subjektif hasil pengalaman saya.
agustin
“untuk jiwaku yang menggemakan lonceng kekosongan
namun tetap berjuang untuk bangkit kembali”
lebaran
October 31, 2009
Rasanya sedih meninggalkan kampung halamanku yang penuh dengan keceriaan.
Sedih karena harus kembali dengan aktivitas-aktivitas yang menyesakkan.
Sedih karena harus kembali sendirian, makan sendirian, tidak ada saudara-saudara yang saling meledek, membuat kelucuan, tidak ada saudara yang menjadi bahan ledekan, tidak ada saudara yang curhat, tidak ada acara makan bersama-sama, tidur bersempit-sempitan, tidak ada yang membuat suasana menjadi ramai menyenangkan.
Semuanya begitu cepat berlalu. Berganti dengan aktivitas perkuliahan yang membosankan, berganti dengan aktivitas turun lapangan, translate dan segala yang berbau akademik.
Semuanya serba membosankan.
Ingin rasanya kembali ke satu minggu terakhir. Mengulang hari-hari lebaran yang memang sangat dirindukan semua orang.
Mengapa lebaran hanya sebentar???
Sedih…
Agustiiin
“untuk jiwaku yang menggemakan lonceng kekosongan
Namun tetap berjuang untuk bangkit kembali”
mahasiswa :)
October 31, 2009
“Banyak belajar banyak lupa
Sedikit belajar sedikit lupa
Ngga belajar ngga ada yang lupa”
Adalah kata-kata yang dikemukakan oleh kakak gue satu-satunya waktu dia masih SMP, dan kebetulan gue yang masih SD menerima kata-kata itu, sampai sekarang menerapkannya dengan manis. Kenapa dengan manis? Ya karena gue menuruti perkataan kakak gue, gue praktekkan sampai gue kuliah sekarang, sampai gue deklarasikan di depan teman-teman kuliah gue, dan jawaban mereka? Gue dibilang sinting. Ngga apa-apa, setidaknya itu adalah ajaran kakak gue yang paling gue inget.
Mungkin bener kata orang, ngajarin keburukan lebih mudah, lebih terkonsep dan mudah diingat. Sedangkan kebaikan? Susah diterapkan, banyak godaannya, hah.. susahlah pokoknya berbuat baik. Malah kadang gue ngerasa, orang lain belum tentu menilai kebaikan yang kita lakukan itu adalah kebaikan. Pusing. Mau berbuat baik aja susah. Tapi kalo berbuat bener gimana ya? Hmm.. jadi bertanya-tanya, seharusnya kita berbuat baik apa berbuat bener ya?
Oke, skiplah itu.
Sekarang gue lagi banyak tugas. Gak seperti belajar, tugas itu keharusan, kalo belajar? Belajar itu kebutuhan, kalo kita ga butuh belajar ya yaudah ga usah belajar. Sama kayak teorinya kakak gue. Tapi tugas? Halah, tugas itu selalu bikin anak kuliah jadi ribet, pusing, ga ada waktu buat main, pikiran tersita, tenaga terforsir, uang terbuang, keluarga terabaikan, pacar? Untung ngga punya pacar, komputer jadi ikutan sibuk juga, perpustakaan jadi rame, pulsa jadi cepet abis, pohon-pohon jadi makin dikit, waktu tidur berkurang. Hanya untuk apa sekali lagi? Hanya untuk mendapatkan nilai A dan IPK diatas 3 koma sekian, yang semester depan juga udah lupa apa yang dikerjain. Hahahaha. Klise!
Hmmmm………..
Menjadi mahasiswa itu sulit.
Kenapa gue nulis sampah kayak gini sih??? Mungkin karena, mulai sekarang gue mau membuatnya lebih berarti. Membuat hidup sebagai mahasiswa lebih berarti, lebih berguna buat nyiapin masa depan nanti. Mungkin. Mungkin juga ngga.
.agustiiin.
“untuk jiwaku yang menggemakan lonceng kekosongan
Namun tetap berjuang untuk bangkit kembali”
a love letter
September 30, 2009
Aku takut..
Aku takut kehilangan kakakku satu-satunya, karena ketika ia menikah nanti aku akan sendiri. Hal-hal yang biasanya aku lakukan dengannya harus tidak lagi kulakukan dengannya. Belanja, nonton berdua, atau hal-hal lain yang biasanya kami lakukan kini tak lagi dapat kami lakukan berdua. Aku sendiri.
Ketika ia pulang ke rumah, atau ketika aku menginap di kosannya, aku harus tidur sendiri. Karena ia sekarang sudah punya teman tidur yang lain, suaminya. Biasanya, kami selalu tidur dalam satu ranjang dan aku akan mengganggunya dengan menyibakkan rambut panjangku ke mukanya, dan ia akan marah-marah. Lalu kini? Tidak ada yang marah ketika aku menyibakkan rambut. Aku sendiri.
Aku tidak bisa berebut sesuatu dengannya lagi, tidak bisa berantem tentang suatu hal yang kecil atau besar sekalipun dengannya, tidak bisa memperdebatkan peran mana yang lebih tampan dalam sebuah film. Karena apa? Karena ia telah menikah, dan harus bersikap lebih dewasa. Lalu apa yang terjadi? Tidak ada musuh. Aku sendiri.
Katika waktu lebaran tiba, dan kami pulang ke Magelang, aku harus sendiri. Dia akan pulang bersama keluarga suaminya. Tidak ada lagi yang tidur disampingku, bersempit-sempitan, berebut bantal atau selimut. Aku menang. Aku sendiri.
Biasanya kami akan membicarakan tentang cowok dimalam hari ketika kami berkumpul, bercerita sampai salah satu tertidur dan yang lain juga akan tertidur. Bercerita tentang lucu atau bodohnya cowok-cowok itu. Tertawa-tawa. Namun kini aku membicarakan cowok-cowok itu kepada Oneng, komputerku, dengan tanpa tawa, tanpa tertidur bila salah satu dari kami tertidur. Oneng hanya benda mati. Aku sendiri.
Lalu ketika bulan puasa, aku yang membangunkannya, menggedor-gedor pintu kamarnya karena ia ‘kebo’. Ia tidur dengan sangat lelap, lalu kini? Aku membangunkan diriku sendiri dengan alarm HP-ku. Aku sendiri.
Sendiri.sendiri.sendiri.sendiri.
Itu membosankan.
Aku mengetiknya sambil menangis. Karena ternyata sangat menyedihkan. Aku pikir ini akan menjadi lelucon, namun aku salah, ini justru menyedihkan.
Aku baru menyadarinya, bahwa ternyata aku sangat menyayangi kakakku. Kakakku satu-satunya.
Dan tulisan ini, akan aku hadiahkan padanya, ketika ia akan menikah nanti, agar aku tak sendiri meskipun aku akan memberikannya pada kakakku yang lain lagi, kakak iparku.
.agustinwardani.
29september2009
SOTOY PANGKAL GILA
August 28, 2009
August, 28th 2009
Dulu waktu masih kecil, gue dan beberapa orang temen kecil gue sering banget main Barbie. Iyah, Barbie si boneka cantik yang badannya aduhai itu. Ceritanya, kita main sampai Barbie-nya nikah sama Barbie cowok (yang kalo ngga salah namanya Ken, gue baru tahu kalo namanya Barbie cowo ini si Ken gara-gara karokean nyanyi lagunya Aqua yang Barbie girl.)
Kayaknya waktu kecil, kita ngeliat kalo pernikahan itu hanya sebatas antara cewek sama cowok yang didandani jadi orang paling cantik atau ganteng di hari itu dan that’s it. Waktu kecil, ngga tahu secara pasti pernikahan itu apa.
Trus beberapa tahun setelah masa kecil gue, pas gue udah SMA. Gue kenal sama seorang anak laki-laki yang namanya X, dia sekelas sama gue waktu kelas X. Aduh, bingung, si X kelas X. Gantilah,, namanya si A kelas X. Ok! Ngga tahu pasti waktu itu kita lagi ngomongin apa, tapi dia pernah bilang sama gue,
“Tin, ntar gue ngga mau nikah ah”
Gue bingung, kok ada ya orang yang dari sekarang aja udah mikir gini. Trus gue tanya balik ke dia
“Hah? Sinting lo ya? Emang kenapa?”
“Ya nggak mau aja, abis ngapain nikah? Kalo ada perceraian? Jadi nikah bukan a lifetime commitment dong? Orang kalo udah cerai bisa nikah lagi-cerai lagi-nikah lagi”
A lifetime commitment?
Ya,sampai disini gue baru sadar, dulu waktu kecil, nikah cuman sebatas upacara, dimana ada dua orang, laki-laki dan perempuan yang dandan cantik dan ganteng pada satu hari tertentu.
Pernikahan itu tentang komitmen, dan juga bukan tentang masalah “kalo udah gede nanti, gue akan menemukan orang yang mencintai gue dan gue juga cinta dia, lalu kita nikah”, atau dengan kata lain, bukan cuman tentang cinta (walaupun kadang nikah seringkali diidentikkan dengan masalah cinta –ngga suka kata cinta– sejati ).
Bahkan ada yang pernah bilang sama gue “kalo kita nikah itu, kita ngga cuman nikah sama satu orang, tapi juga nikah sama keluarga, nikah antar keluarga” Berarti masalahnya adalah penerimaan dari keluarga? Kalo menurut gue pribadi sih itu salah satu masalahnya.
Trus gimana dengan masalah perbedaan? Gue pernah baca satu buku, lupa buku apa pengarangnya siapa, disitu penulisnya bilang, menikah itu bukan menyatukan dua orang yang sama, tapi menemukan orang yang beda dari kita dan menerima perbedaan itu lalu menyatukan perbedaan itu supaya bisa saling komplementer.
Tapi sekarang justru banyak anggota keluarga (dimana menikah adalah ritual antar keluarga, dengan persetujuan keluarga, keputusan keluarga) yang ngga setuju kalo si L nikah sama si Y karena si L cuman anak pembantu, atau karena keluarganya si Y ada yang pernah masuk RSJ. Sigh.
Dan satu lagi masalah yang penting juga, nikah juga menyangkut masalah gender. How come? Ya iyalah, karena ketika lo nikah nanti (mengacu pada perspektif gue sebagai seorang perempuan) lo bakal ngurusin suami lo, anak-anak lo, ngambilin makan buat suami lo, nyuciin bajunya suami lo, masakin buat suami lo, bikinin the buat suami lo, kalo perlu sampe suami lo tidur lo harus nglayanin suami lo.
Apa lo siap dengan keadaan yang kayak gitu? Tapi kembali lagi sih,, berarti si laki-laki musti juga ngelakuin tanggung jawab yang lebih berat lagi.
Jadi kenapa ya gue nulis tentang masalah pernikahan? Hahaha, ngga tau deh, tiba-tiba aja kepikiran masalah ini. Bukan, bukan memikirkan apakah gue pengen menikah dalam waktu dekat ini, tapi gue melihat suatu hal yang membuat gue memikirkan tentang pernikahan.
Masalah komitmen seumur hidup yang harusnya cuman sekali seumur hidup, masalah perbedaan yang mungkin aja ada dalam hubungan lo (termasuk perbedaan kepercayaan), penerimaan keluarga, dan masalah pembagian kerjaan antara lo sama pasangan lo, yah… banyak deh.
Pastinya, semua orang mau yang terbaikkan buat hidupnya?
Jadi baiknya, pikirin semuanya sebelum mengambil keputusan.
Agustin,
“untuk jiwaku yang menggemakan lonceng kekosongan
Namun tetap berjuang untuk bangkit kembali”
Sebuah Pengakuan
August 19, 2009
August.20th.2009
Ini sudah malam… dan gue masih terjaga. Entah apa yang membuat gue terjaga setiap malam. Ngga bisa tidur.. sekarang tepat jam 12.39 wib (menurut perhitungan waktu di komputer gue).
Beberapa puluh menit yang lalu, gue baru aja menginjak usia 19 tahun (mungkin).
Dan gue masih ngga ngerti mau jadi apa gue. Apa harapan gue, gak kepikiran. Yang pasti, gue cuman mau lulus kuliah tepat waktu, kerja, dan ngga nyusain orangtua gue. Amin.,.
Hmmm.. malam ini gue ngga sendiri. Iyah, ngga sendiri, ada yang menemani gue.
Siapa?
Rahasia ah, kalo dibeberkan disini, bisa-bisa gue disidang nanti.
Pokoknya, gue nggak sendiri. Itu aja.
Ini hari kamis..
Beberapa hari yang lalu, tepatnya pas hari hari sabtu, iyah itu malam minggu. Malamnya anak muda, gitu kata orang-orang. Wakuncar, gitu kata penyanyi dangdut. Gue nginep di rumah sodara gue. Angga namanya. Malamnya, gue pergi bersama beberapa orang teman Angga.
Kita ke daerah Puri, bukan Mall tentunya. Kita ke Sandwich bakar. Enak tempatnya.
Ada beberapa teman disitu. Emmm… kami berenam. Termasuk gue dan Angga sodara gue.
Semua yang ada disitu adalah perokok. Wah.. jadi banyak asap kalau mereka sedang ngumpul.
Gue pesen Capuccino Latte. Hmmm.. berharap diatas minuman itu ada whipped cream yang yummy sekali.. tapi ternyata nggak. Cuh, mahal doang. Gitu pikir gue.
Angga pesen sandwich yang kayaknya enak. Tapi ternyata biasa aja.
Yah.. diluar dari semua itu, harus gue akuin, tempatnya emang cozy banget buat nongkrong.
Satu jam..
Satu jam setengah..
Dua jam…
Kita ngobrol-ngobrol, ketawa-ketawa,cerita lucu, sampai curhat-colongan. Mereka merokok. Masih. Gue? Gue mencoba minuman yang dipesen oleh tiap orang. Espresso, capucinno, lemon tea, hingga air putih yang dikasih gratisan buat pendamping si espresso.
Gue masih heran, kenapa espresso Cuma segelas kecil gitu. Norak banget ya gue? Ternyata karena rasanya yang anjing-anjingan paitnya. Sumpah. Itu sih kopi item biasa! Hahaha. Dasar norak lo Tin.
Espresso gue kasih gula cair sampai manis. Yang lain cuman ngliatin gue. Mungkin dalam benak mereka “ini anak udah sinting kali ya?”. Gue minum espresso yang sekarang rasanya jadi kayak jahe anget itu. Yang lain ngliatin gue. Secara otomatis nggak romantis, gue nawarin mereka “mau gak? Enak loh, kayak jahe”. Merekapun dengan tatapan binal mulai ngatain gue sinting.
Gak peduli dengan apa kata mereka. Gue mulai blingsatan. Angga mulai merokok lagi setelah menenggak capucinno yang dipesannya. Yang lain masih asik foto-foto.
Ah, sh*t.. batre kamera gue low lagi. Gue tambah blingsatan. Ngga bisa mengambil gambar. Ngga bias mengabadikan moment malam minggu ceria itu. Untungnya, salah satu teman Angga yang berinisial ‘D’ (bukan tokoh penting, makanya ga usah sebut-sebut namanya) membawa HP bermerk sama dengan HP gue, tapi beda tipe, tentu lebih bagus. Dia mulai mengabadikan moment malam minggu ceria yang indah itu. Hasilnya? Bagus. Mungkinkah dia adalah seorang fotografer? Sudahlah, diakan bukan tokoh utama. Lets back to the topic.
Sampai mana tadi? Ohya, mengabadikan moment yang indah. Iya itu. Lalu Angga merokok lagi. Dan semuanya merokok lagi. Asap jadi tambah banyak. Gue hanya memainkan bungkus rokok bermerk ‘A’ layaknya anak kecil bau kencur main mobil-mobilan. Kemudian, Angga tersenyum sinting pada gue. Dia menawarkan rokok pada gue. Dan gue pun.. yang secara pasti dan emang pengen nyobain akhirnya megang sebatang rokok yang diberikan Angga.
Gue tidak menghirup itu. Gue hanya menjadikannya sebagai properti foto. Kemudian, “D” memotret gue. Fotonya ada di facebook gue –kalo ada yang tertarik melihat– . lalu gue mengembalikan sebatang rokok yang menyala itu ke tangan Angga. Angga mulai menyetani gue. Dia mulai merayu gue untuk mencoba menghisap benda biadab yang ada di tangannya itu.
Sedetik
Dua detik
Dan berdetik-detik gue memandangi sambil tersenyum-senyum.
“Tenang aja, gue ngga bilangin ke nyokap lo kok” begitu katanya saat itu.
Gue pun tergerak hatinya, tergerak tangannya untuk mencoba sebatang rokok biadab itu. gue ambil sebatang rokok yang ada di tangan angga itu. mulai menjejalkan sebatang rokok biadab itu ke mulut gue. Lalu menghisap si rokok dengan blingsatan. Tanpa pengalaman. Lalu menghembuskan asap putih yang membentuk kepulan-kepulan awan. Awan itu membumbung. Gue tidak batuk-batuk, seolah gue adalah perokok professional yang emang udah biasa merokok. Lalu gue mulai menghisap lagi. Lagi. Dan lagi hingga mencapai ujung batas filter. Tandas.
Rasanya enak. Hmmm… nikmatnya masih berasa sampai sekarang. –lebay–
Malam selanjutnya, di daerah Kreo, Ciledug, gue (dan teman-temannya Angga) melewatkan malam senin-an. Kami pesan minuman yang serupa dengan kemarin kami pesan di sandwich bakar. Namun kali ini dilengkapi dengan shisha. Taukan? Itu loh…
Gue mencobanya. Rasanya? Enak juga sih.. ditambah dengan aroma strawberry yang yummy.
Dan juga sebatang rokok dengan merk lain.
Lalu sebatang lagi….
*agustiiin
“untuk jiwaku yang menggemakan lonceng kekosongan
Namun tetap berjuang untuk bangkit kembali”
Mencintai, tapi tak dicintai..
August 6, 2009
Terkadang ketika kita menyukai seseorang, kasih yang kita berikan bertepuk sebelah tangan. Tentu saja tidak semua orang yang mencintai selalu bertepuk sebelah tangan.. mujurnya, bila mencintai orang yang ternyata juga mencintai kita juga. Namun kenyataan tidak selalu berakhir dengan happy ending. Begitulah perkataan salah seorang teman yang bisa dikatakan cukup bijak dalam menyikapi hidup.
Yah, back to topic..
Seorang teman dekat gue saat ini sedang mencintai temen gue yang lain lagi. Sebagai analogi aja, teman deket gue ini seorang perempuan. Yah, menurut subjektivitas gue sih perempuan ini cukup manis dan mudah bergaul walaupun tidak rajin menabung dan tidak juga terlalu pandai. Sedangkan yang disukainya itu tentunya adalah seorang teman laki-laki yang (lagi-lagi) menurut subjektivitas gue adalah seorang laki-laki yang manis, kreatif, baik hati, mudah bergaul, punya banyak teman, menyayangi teman-temannya, sederhana, namun sedikit pemalas.
Si perempuan yang ber-notabene adalah teman dekat gue ini menyukai si laki-laki dengan teramat sangat. Gue sendiri sampai saat ini juga bingung apa yang dilihatnya dari laki-laki pemalas itu.. namun memang benar kata orang, cinta itu buta, tak tau tempat, tak tau apa-apa, hanya datang lalu bernaung. Hihihi.. aneh! Namun, lagi-lagi kenyataan tak bisa dipungkiri. Si laki-laki tak kunjung mempunyai perasaan yang sama terhadap perempuan yang merupakan teman dekat gue itu. Dan teman dekat gue semakin hari semakin menggilai laki-laki itu. Setiap hari sepasang telinga gue ini selalu mendengar cerita-cerita tentang laki-laki itu. Pusing rasanya…
Lalu, tiba saat si laki-laki ini berbalikan dengan mantan pacarnya (perempuan tentunya, dan sudah pasti bukan teman dekat gue). Teman dekat gue hanya bisa menerima kenyataan yang tidak happy ending itu, dengan hati yang (katanya) ikhlas.
Teman dekat gue ini, terjebak dalam perasaan menyukai yang saat ini telah mencapai tingkat akut. Hampir 2 tahun ia menyukai (atau bahkan mencintai) laki-laki yang sudah punya pacar itu. Perasaannya bukan mankin berkurang, namun justru makin bertambah. Gue bingung. Dia bahkan sempat bercerita pada gue. Katanya saat itu :
“Gue rela kok kaya gini, Tin. Asal bisa ngeliat si X bahagia, gue bakal rela nglakuin apa aja. Karena gue sayang dia. Dan sayang itu gak perlu memiliki”.
Teman gue (yang entah bodoh atau sinting) ini mengatakannya sambil menarawang ke depan dengan mata yang berbinar-binar dan senyum yang (kelihatannya) sangat ikhlas. Seolah-olah dia adalah orang yang paling bahagia sedunia. Huhuh.. gue sedih jadinya.
Hmmm.. lalu, gue sendiri juga jadi ikutan berpikir.. apakah mungkin melepaskan orang yang kita sukai untuk bahagia namun sesungguhnya kita yang harus tidak bahagia karenanya? Kalau memang mungkin, mulia sekali hati teman saya itu ya.. betapa baiknya dia.. semoga teman saya menemukan orang yang bisa menyayanginya dengan tulus. Amin.
August, 6th 2009
Agustiiin,
Untuk jiwaku yang menggemakan lonceng kekosongan
Namun tetap berjuang untuk bangkit kembali